Teks Resensi | Bahasa Indonesia Kelas XI

Sahabat Latis, pernahkah kalian melakukan resensi terhadap suatu bacaan? Kegiatan tersebut merupakan cara yang dilakukan seseorang dalam menilai sebuah karya.

Ketika kita melakukan resensi buku, kita mesti mempertimbangkan beberapa hal seperti jenis-jenis bacaan yang akan diresensi dan aspek-aspek penilaian yang telah ditetapkan.

Lantas, apakah hanya itu saja? Scroll terus tulisan ini agar Sahabat Latis memahami lebih jauh tentang teks resensi.

Teks Resensi


Teks Resensi

Sahabat Latis, di akhir materi ini, kita diharapkan dapat memahami tentang apa itu teks resensi, sistematika teks resensi, menganalisis kebahasaan teks resensi, dan belajar meresensi sebuah bacaan.

Baca juga: Les CPNS Jakarta

A. Definisi Teks Resensi

Apa itu teks resensi? Secara garis besar, resensi adalah sebuah ulasan yang memuat identitas buku. Tidak hanya itu saja, resensi harus memuat penilaian tentang keunggulan dan kekurangan buku tersebut.

Terdapat tiga definisi yang menjelaskan tentang apa itu teks resensi. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan bahwa resensi adalah pertimbangan akan srbuah buku.
  2. Setiyaningsih (2017: 65) menyatakan bahwa resensi merupakan sebuah penilaian karya yang bersifat objektif.
  3. Kosasih (2019: 493) menjelaskan bahwa teks resensi adalah teks yang berisi tinjauan tentang kualitas sebuah buku, pementasan, film, lukisan, lagu, ataupun karya lainnya.

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa teks resensi merupakan penilaian berupa ulasan mengenai suatu karya berbentuk buku atau tulisan lainnya.

Tugas penulis resensi adalah memberikan gambaran kepada pembaca tentang kelayakan sebuah karya untuk dikonsumsi publik.

B. Ciri Kebahasaan Teks Resensi

Secara umum, teks resensi memiliki ciri kebahasaan yaitu menggunakan konjungsi penerangan, konjungsi temporal, konjungsi penyebab, kata kerja material, dan pernyataan saran.

  1. Penggunaan konjungsi penerang, seperti; yaitu, yakni, dan bahwa.
  2. Penggunaan konjungsi temporal, seperti; kemudian, akhirnya, sejak, dan semenjak.
  3. Penggunaan konjungsi penyebab seperti; sebab dan karena.
  4. Adanya penggunaan kata kerja mental, seperti; menarik, menikmati, menyukai, menyadari, memikat, dan mengejutkan.
  5. Teks resensi tidak jauh-jauh dari penggunaan pernyataan rekomendasi yang ditandai dengan kata harus, jangan, dan hendaknya.
  6. Adanya unsur serapan yaitu kata-kata yang diadaptasi dari bahasa lain sehingga kita perlu memperhatikan kaidah penulisannya. Misalnya kata foto (photo), retorika (rhetorika), sistem (system), dan lainnya.

Teks Resensi
Source: https://www.freepik.com/


C. Sistematika Teks Resensi

Sahabat Latis, sebelum melakukan resensi terhadap sebuah karya, cobalah untuk menemukan unsur-unsur dari karya tersebut, bahasa, dan apa saja manfaat karya itu bagi para pembaca.

Susunlah teks resensi berdasarkan:

  • Judul resensi
  • Identitas buku yang menyertakan judul buku, nama pengarang, penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman.
  • Pendahuluan yang berisikan tentang identitas pengarang secara ringkas, tujuan penulisan buku, dan lainnya.
  • Isi resensi memuat keunggulan dan kekurangan buku (hal-hal yang menarik, tema cerita yang relevan bagi kehidupan masyarakat, sudut pandang yang konsisten, keterkaitan antar bab, dan nilai yang diambil setelah membaca karya tersebut).
  • Tutuplah teks resensi dengan kesimpulan.

D. Belajar Meresensi Sebuah Bacaan

Sahabat Latis, seperti yang kita ketahui bahwa teks resensi tersusun atas judul, identitas buku, pendahuluan, isi resensi yang memuat keunggulan dan kekurangan buku, serta kesimpulan.

Nah, agar Sahabat Latis mahir dalam meresensi buku, mari kita pelajari contoh teks resensi berikut ini.

Contoh Resensi Buku 1

Teks Resensi
Source: https://twitter.com/


Judul Buku: Istanbul (Kenangan Sebuah Kota)

Penulis: Orhan Pamuk

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Serambi

Tahun terbit: 2015

Tebal: 561 halaman

Istanbul atau dulunya dikenal dengan nama Byzantium merupakan kota yang paling penting dalam sejarah. Kota ini menjadi ibu kota dari empat kekaisaran, yaitu Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Romawi Timur, Kekaisaran Latin dan terakhir Kekaisaran Utsmaniyah. Penyebaran agama Kristen mengalami kemajuan pada masa Kekaisaran Romawi dan Romawi Timur sebelum Utsmaniyah menakhlukkannya pada tahun 1453 di bawah kepemimpinan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) yang mengubahnya menjadi pertahanan Islam sekaligus ibu kota kekhalifahan terakhir.

Kesultanan Utsmaniyah berakhir pada tahun 1922. Istanbul beralih menjadi Republik Turki pada tahun 1923. Namun tak banyak kemajuan yang terjadi pada periode ini. Kota yang dahulunya pernah menjadi rebutan karena kekayaan dan posisinya yang strategis mendadak diabaikan setelah Kesultanan Utsmani jatuh. Sebaliknya, kota ini menjadi lebih miskin, kumuh, dan terasing. Kegemilangan kota ini perlahan memudar. Rakyat hidup dalam kemiskinan dan penderitaan akan kenangan kejayaan masa lalu.“Seakan-akan begitu kami aman berada di rumah kami, kamar tidur kami, ranjang kami, maka kami dapat kembali pada mimpi-mimpi tentang kekayaan kami yang telah lama hilang, tentang masa lalu kami yang legendaris.” (halaman 50).

Sebesar apa pun hasrat untuk meniru Barat dan menjalankan modernisasi, tampaknya keinginan yang lebih mendesak adalah terlepas dari seluruh kenangan pahit dari kesultanan yang jatuh: lebih menyerupai tindakan seorang pria yang diputus cinta membuang seluruh pakaian, barang-barang, dan foto-foto bekas kekasihnya. Namun, karena tidak ada sesuatu pun, baik dari Barat maupun dari tanah air sendiri, yang bisa digunakan untuk mengisi kekosongan itu, dorongan kuat untuk berkiblat ke Barat sebagian besar merupakan usaha untuk menghapus masa lalu; pengaruhnya pada kebudayaan bersifat mereduksi dan membuat kerdil, mendorong keluarga-keluarga seperti keluargaku yang, meskipun senang melihat kemajuan Republik, melengkapi perabot rumah mereka layaknya museum. Sesuatu yang di kemudian hari aku ketahui sebagai misteri dan kemurungan yang mewabah, kurasakan pada masa kanakkanakku sebagai kebosanan, dan kemuraman, rasa jemu mematikan, yang kuhubungkan dengan musik “alaturka” yang membuat nenekku tergerak untuk mengetuk-ngetukkan kakinya yang bersandal: aku melarikan diri dari situasi ini dengan membangun mimpi” (halaman 43).

Source: Buku Bahasa Indonesia Kelas XI oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Contoh Teks Resensi 2

Teks Resensi
Source: https://pusakadunia.com/


Judul buku: Teknik Bermain Gitar

Penulis: Famoya

Penerbit: Terbit Terang Surabaya

Kota penerbit: Surabaya

Tahun terbit: 1999

Jumlah Halaman: 80 halaman

Gitar merupakan sebuah alat musik yang sangat populer dengan “Gitaris” sebagai sebutan untuk pemain gitar. Getar nurani menjadi seorang gitaris muncul alami yang menciptakan kreasi meluap tidak kenal waktu, yang mungkin sejenis akademi hanya sebatas formalitas belaka. Akan tetapi, nurani darah seni lebih memotivasi yang dicita-citakan.

Gitar adalah alat musik yang menghasilkan melodi indah dengan cara memetik senarnya. Bentuk gitar memengaruhi baik dan tidaknya suara gitar. Dalam bermain gitar tidak hanya berpedoman teori nada minor dan mayor, melainkan dengan ketajaman perasaan dan mengatur senar gitar.

Selain itu untuk menghasilkan melodi yang indah tidak bisa asal petik, tapi menggunakan nada dasar dan menentukan kunci nada. Kunci nada dalam sebuah lagu harus sesuai dengan kemampuan suara penyanyi. Dengan demikian lantunan lagu dapat dinikmati dengan indah.

Teknik Seni Bermain Gitar ini merupakan buku yang menarik. Itu terletak pada bab Body Gitar yang menjelaskan cara memilih gitar dan kunci nada yang memberikan sugesti bahwa tanpa melihat nada tertentu, mendengar suaranya saja akan mampu membedakan jenis nada.

Source: www.ecs12.tokopedia.net

Setelah membaca dan mempelajari kedua contoh di atas, Sahabat Latis telah mengenal seperti apa teks referensi itu.

Ketika menyusun sebuah teks resensi berdasarkan karya yang diinginkan, pastikan bahwa ulasan teks sudah terlebih dahulu disusun secara sistematis dan runut, berisi informasi yang jelas dan nyata. Bukan hasil khayalan atau imajinasi lainnya.

Baca juga: Bimbel CPNS Online

Bagaimana Sahabat Latis, sudah mulai paham kan dengan materi Teks Resensi?

Supaya kamu makin paham dengan materi lainnya, bisa jawab PR dan tugas di sekolah dengan mudah dan prestasi kamu meningkat tajam, kamu bisa coba ikutan les privat Latisprivat lho!

Gurunya berprestasi dan biayanya juga hemat. Bisa online dan tatap muka juga. Fleksibel kan? Untuk info lebih lanjut, kamu bisa hubungi Latisprivat di line chat 085810779967.

Sampai ketemu di kelas!

Referensi:

Modul Bahasa Indonesia Kelas XI; Resensi oleh Moh. Shofiuddin Shofi, M.Pd. (SMAN 1 Bumiayu).

Modul Mengonstruksi Resensi dengan Kaidah Bahasa yang Benar (Bahasa Indonesia) Kelas XI oleh Sutji Harijanti, M.Pd. (SMAN 5 Semarang).

Suherli, Maman Suryaman, Aji Septiaji, Istiqomah. 2017. Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Latisprivat.com



Komentar

Popular Post